Memang, Denmark ini sudah tidak berpikir jernih lagi. Mungkin karena ketakutan tak berdasar terhadap komunitas Islam. (Metro TV pernah menayangkan, sayang saya tidak menonton).
Ini ada link tentang tulisan si gitaris kelompok Queen soal kartun ini.
Musisi Queen, Brian May, tentang heboh kartun Nabi(c)
brianmay.comDan ini ada link
SBY di Herald tribune.
Dan ada tulisan di Reuters nih:
Mohammad row - one man's cartoon is another's crime dan ada kata2 :
"
Rising tensions over religion in Europe have led to unexpected twists. For example, practising Christians -- now only a fraction of most secularised European societies -- have begun to act like minorities demanding their rights.
Cardinal Philippe Barbarin, Catholic archbishop of Lyon, echoed this when he welcomed the Muslim protests and hoped they would lead to more respect for all religions. Joseph Sitruk, Grand Rabbi of French Judaism, also supported the Muslims."
Nah kadang2 ada yg memang sudah rusuh, misalnya bakar2 gedung kedubes. Lha padahal itu kan bahaya kalo jadi kebakaran besar ke tetangga kedubes. Lagian juga tempatnya bukan di Denmark. Nah mungkin untuk mencegah hal itu maka pemerintah negara2 itu bertindak lewat polisi.
Is that a kind of freedom to speech, that burns building without any consideration? So, if it is get worse, will the protester be the same with Denmark by it self?
Dan mungkin kah ini adalah pengejawantahan ketidakmampuan para pemrotes, sebagai individu atau masyarakat/bangsa untuk mendesak negera2 seperti Denmark dgn cara yg lebih elegan? Misalnya, dgn persuasif progresif, pemutusan hubungan diplomatik, perdagangan, dll?
Do all human in this world already
walk the line?
In Harmonia Progressio